Sabtu, 13 November 2010

Pak Haji dan Bu Haji

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisaa’:142)


Sebutan haji bagi orang-orang yang pulang haji di Indonesia adalah sebuah tradisi. Bahkan, bisa saja seorang Pak Haji atau Bu Haji akan kecewa, mengeluh, atau marah jika sebutan ”haji” tidak tersemat pada nama mereka. Apa gerangan dalam sebutan haji ini?
Pakaian muslimah India/Pakistan. 
Merunut pada pengalaman saya yang menunaikan umroh pada Mei 2009, di Masjidil Haram,  Masjid Nabawi, maupun pasar-pasar, penduduk di sana memanggil para jamaah umroh dan haji dengan sebutan ”Hajj” atau ”Hajjjah”. Mudah bagi mereka untuk mengenali para jamaah ini melalui wajah-wajah asing dan pakaian khas dari tiap-tiap negara. Dalam suatu thawaf, penulis mendengar seorang askar[1] di Masjidil Haram menegur seorang jamaah wanita dari India/Pakistan, ”Hajjah.. hajjah.. aurah! Thawaf nehi kabul!” Sebagai informasi, kebanyakan dari jamaah wanita India, baik di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi tidak menggunakan hijab rapat. Mereka menggunakan baju panjang sampai lutut sebagai baju atasan, dengan bawahan celana khas perempuan India/Pakistan, dan dilengkapi dengan kain panjang tipis yang dililitkan di sekitar badan bagian atas sebagai kerudung, tanpa peniti atau apapun yang dapat membuat kain ini menutup rapat aurat bagian atas mereka. Sang askar menegur perempuan India ini karena rambutnya tampak menyembul di antara kerudung dan dahinya, sungguh sayang jika thawafnya jadi tidak bernilai. Saya sendiri pernah ditegur dengan panggilan ”hajjah” oleh askar wanita di Masjid Nabawi karena salah masuk area sholat yang sudah penuh oleh jamaah. Penyebutan ”Hajj” dan ”Hajjah” ini dilakukan sebagai panggilan praktis dari penduduk di sana terhadap para jamaah haji/umroh.
            ”Bu Haji, ojek, Bu..” Tukang ojek, tukang sayur, atau tukang-tukang lain di Indonesia yang memerlukan simpati dari calon pelanggan biasanya menggunakan sebutan ini bagi ibu-ibu berjilbab atau bapak-bapak berkopiah. Kadang ampuh dan diiringi ”aamiin”, kadang justru berujung umpatan.
Pak Haji
            ”Eh.. Pak Haji udah rapi, mau ke masjid, Pak?” Sementara sapaan macam ini biasanya disematkan pada mereka yang memang diketahui sudah berhaji. Penyebutan gelar haji pun beriringan dengan gelar-gelar akademis macam, Prof. Dr. H. Ing. B.J. Habibie atau sekadar mencirikan keislaman macam, H.M. Soeharto. Seolah-olah semakin panjang gelaran dalam nama, semakin terhormat seseorang. Benarkah ”haji” adalah gelar kehormatan?
Sejarah haji di Indonesia menyimpan catatan tersendiri mengenai perkembangan Islam di Indonesia. Akan tetapi yang akan saya paparkan di sini adalah jumlah jamaah haji dan presentasenya pada masa-masa tertentu saja. Pada tahun 1897-1898, dari 30 ribu jamaah yang mendarat di Jeddah, sebanyak 7.900 atau 20 persen berasal dari Hindia Belanda. Lalu pada 1911-1912, dari 83 ribu jamaah, jamaah Hindia Belanda mencapai 22 persen (18.400). Kemudian pada 1920-1921, dari 61 ribu jamaah, ada 47 persen (28.800) jamaah dari Hindia Belanda. Sementara pada tahun 1930-1931, dengan 40 ribu jamaah, sebanyak 17 ribu jamaah (42 persen) adalah jamaah haji dari Hindia Belanda. Angka-angka di atas bukanlah angka yang sedikit. (Republika Kamis, 11 November 2010). Hari ini telah berada di Bukit Arafah, (berapa, %) jamaah Indonesia.
Perjalanan haji adalah perjalanan yang menuntut banyak pengorbanan. Sekadar pengorbanan satu juta rupiah kambing atau delapan juta rupiah sapi sebagai kurban, tidak berarti apa-apa jika dibanding dengan hal-hal yang perlu dikeluarkan dan dtinggalkan selama berhaji. Apalagi bagi negeri jauh seperti Indonesia. Terbayangkah di benak bagaimana perjalanan haji minim teknologi pada tahun 1897?
            Sebelum tahun 1978, perjalanan haji belum menggunakan pesawat terbang, hanya kapal layar dan kapal uap. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi naik haji dengan. kapal layar pada 1854. Saat mendekati Srilangka (Ceylon) kapalnya diserang angin. Mualim, seperti ditulis Abdullah, berseru pada para jamaah, ”Kamu sekalian pintalah doa kepada Allah kerana tiap-tiap tahun di sini ada beberapa kapal yang hilang. Tiadalah kedapatan lagi namanya, tiada hidup bagi seorang.” Abdullah pun menggambarkan tingginya gelombang yang mengempas kapal. Dalam ombang-ambing kapal, muntah dan kencing dialami banyak jamaah di kapal. ”Tiadalah lain lagi dalam fikiran manusia melainkan mati,” tulis Abdullah yang selamat sampai Mekah tapi tak berapa lama meninggal dunia di sana. Ini hanya sebuah gambaran dari banyak kejadian pada masa itu yang saya dapatkan dari Republika Kamis, 11 November 2010.

            Betapa kerinduan yang mendesak-desak, telah mengorbankan segalanya. Betapa panggilan yang menyeru-nyeru, telah terngiang-ngiang begitu dekatnya.

Lihatlah Muhammad Darwisy yang menjadi KH. Ahmad Dahlan (berhaji pada 1883-1888 dan 1903-1905), pendiri Muhammadiyah yang hingga hari ini tetap terasa pengaruhnya dalam memajukan Islam di Indonesia. Tengok pula Syekh H. Burhanudin Ulakan, ulama dari Pariaman yang dalam kepulangan hajinya mendirikan model pendidikan Islam di Sumatera Barat yang amat termahsyur,surau (pulang haji pada tahun 1608). Haji Agus Salim atau Masyudul Haq yang menunaikan haji dalam tugasnya menjadi dragon man (ahli penerjemah) di Konsulat Belanda, Jeddah sejak 1906-1911. Begitu pun KH. Wahab Chasbullah, pendiri Nadhalatul Wathan yang disebut sebagai cikal bakal Nahdlatul Ulama, termasuk pendiri NU KH. Hasyim Asy'ari. Kemudian, KH. Abdulhalim, ulama Majalengka yang mendirikan Persyarikatan Ulama (19117) yang  meluas ke Jawa dan Madura (1924). Serta para haji pendiri pesantren seperti, KH. Irfan (Ciamis), KH. Soedjak (Cirebon), KH. Agus (Pekalongan), Tuan Guru KH. Muhammad Zainudin Abdul Majid (Lombok), H. Mahmud Soesilo Soewignyo (Kalimantan Barat), dan sederet nama lainnya yang tidak bisa saya tuliskan dan dapatkan seluruhnya.

Bagi para ulama ini, haji bukan sebutan di bibir. Haji adalah tanggung jawab. Menjadi haji berarti menjadi guru yang membawa ilmu keislaman “asli”. Sebutan haji adalah penghormatan dari masyarakat muslim Indonesia bagi seorang pelita. Haji adalah penggerak umat. Merekalah yang mengokokohkan Islam di bumi Indonesia.

Itulah sekelumit pendapat penulis mengapa sebutan "haji" menjadi tradisi yang begitu melekat. Tahun berganti tahun, pergeseran makna tak dapat dielakkan. Begitu pun dengan perkembangan zaman dan segala hal yang mengiringinya. Jika dahulu berhaji dilakukan sambil menuntut ilmu keislaman. Kini kita dapat dengan mudah mengakses ilmu-ilmu tersebut melalui berbagai cara. Ulama dengan segudang ilmu semakin banyak,  kemudahan akses internet pun sangat memanjakan.  Namun yang tidak berubah hingga kini, tujuan utama berhaji adalah menggapai haji yang mabrur. Mabrur berasal dari kata al birru yang berarti kebaikan, maka mabrur adalah haji yang mengantarkan pelakunya menjadi lebih baik dari masa sebelumnya. Al Qur’an juga menggunakan kata al birru untuk pengabdian yang terus menerus kepada orang tua  dalam QS. 19:32. Orang-orang yang selalu mentaati Allah swt dan menjauhi segala yang dilarang disebut al abraar, kelak mereka dihari kiamat akan ditempatkan di surga. 


Lalu dimana Pak Haji dan Bu Haji hari ini? Semoga meraih haji mabrur...!         


Selamat Hari Raya Idul Adha 1431 H


Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam 
(‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).



[1]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar